Kutuk Penangkapan Presiden Venezuela, China Tuding Serangan AS Pelanggaran Serius Hukum Internasional
EmTrust - Pemerintah China mengutuk serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) ke sejumlah wilayah di Venezuela untuk menangkap Sang Presiden, Nicolas Maduro, beserta istri. Penangkapa...
EmTrust EmTrust - Pemerintah China mengutuk serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) ke sejumlah wilayah di Venezuela untuk menangkap Sang Presiden, Nicolas Maduro, beserta istri.
Penangkapan dilakukan pihak AS dengan berdasarkan tuduhan sepihak terhadap Maduro, yang dinilai telah melakukan pengerahan imigran ilegal dan keterlibatan pada jaringan narkotika internasional.
Pihak Beijing pun menegaskan bahwa agresi militer tersebut merupakan bentuk pelanggaran hukum internasional yang serius.
Seorang Juru Bicara Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa Pemerintahan China di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping sangat terkejut dan menentang keras adanya operasi militer tersebut.
"Tindakan hegemonis seperti itu merupakan pelanggaran hukum internasional yang serius dan melanggar kedaulatan Venezuela serta perdamaian dan keamanan di Amerika Latin dan kawasan Karibia," ujar juru bicara tersebut, sebagaimana dikutip Associated Press, Sabtu (3/1/2026).
Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, juga telah mengakui aksi penangkapannya atas Maduro, seiring tuduhan keterlibatan pada kartel narkotika internasional dan juga isu imigran ilegal.
"AS berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang ditangkap bersama istrinya dan diterbangkan keluar dari negara itu," tulis Trump, dalam platform media sosial Truth Social, miliknya.
Penangkapan dilakukan Trump berdasarkan keputusan Kejaksaan Agung AS pada 2020 lalu, yang telah menjatuhkan dakwaan terhadap Maduro atas keterlibatan pada kartel narkotika internasional.
Dalam dakwaaannya, Kejaksaan Agung AS menuduh Pemerintahan maduro sebagai "Pemerintah korup, tidak sah, dan menggunakan wewenang pemerintah untuk melindungi dan mempromosikan kegiatan ilegal, termasuk perdagangan narkoba, selama berdekade-dekade."
Atas dakwaan tersebut, Maduro pun membantah dengan tegas, dan menuding balik bahwa pihak AS hanya ingin menguasai cadangan minyak Venezuela yang merupakan cadangan terbesar di dunia.
(Tantra Deepa Rastafari)
- Siswa SMPN 2 Bulukumba Gelar Ramadhan Berbagi, Bangun Semangat Kepedulian di Bul...
- Profil Akhmad Wiyagus: Dari perwira tinggi Polri ke Wamendagri
- Daftar 25 pejabat & 10 Dubes yang dilantik Prabowo pada Oktober 2025
- Profil Agung Gumilar, Asisten presiden bidang Analis Data Strategis
- Profil Dirgayuza, Asisten presiden bidang Komunikasi Analis Kebijakan
- OJK Denda Tiga Pihak Transaksi Semu Saham IMPC Tahun 2016
- Grup Astra (AALI) Cetak Laba Rp1,5T Melonjak 28% di 2025
- Laba MMLP Anjlok 71,8% di 2025, Tinggal Rp70,7M!
- Emiten Milik Hapsoro (RAJA) Buka Data Free Float di Tengah Buyback
- Nilai Pasar Fantastis, PINTU Gas Listing Baru