Antisipasi Krisis, Belanda Minta Warganya Siap Bertahan Tiga Hari Tanpa Listrik dan Komunikasi
EmTrust - Kondisi geopolitik global yang semakin memanas hingga tren perubahan iklim yang berpotensi menimbulkan bencana alam membuat sejumlah merasa perlu bersiap diri untuk kondisik terburuk. Se...
EmTrust EmTrust - Kondisi geopolitik global yang semakin memanas hingga tren perubahan iklim yang berpotensi menimbulkan bencana alam membuat sejumlah merasa perlu bersiap diri untuk kondisik terburuk.
Seperti halnya yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda, yang dilaporkan telah membagikan buku panduan bagi warganya agar dapat bertahan hidup minimal selama 73 jam (tiga hari) di tengah pasokan makanan, listrik hingga sarana komunikasi yang terhenti.
Buku panduan tersebut dicetak setebal 33 halaman, dan dirancang untuk membantu masyarakat memahami bagaimana bertahan hidup selama 72 jam pertama ketika terjadi krisis besar, seperti pemadaman listrik massal, serangan siber, gangguan komunikasi, atau bencana alam.
Secara total, buku tersebut telah dibagikan kepada 8,5 juta rumah tangga di seluruh pelosok Belanda, dan merupakan bagian dari kampanye kesiapsiagaan Denk Vooruit (Think Ahead).
Di dalamnya, pemerintah Belanda berbagi tips tentang langkah-langkah yang harus dilakukan jika berbagai layanan publik, seperti air, listrik, atau internet tiba-tiba tidak berfungsi.
Panduan mencakup daftar kebutuhan dasar yang perlu disiapkan di rumah, seperti air minum, makanan tahan lama, senter, radio baterai, obat-obatan, serta dokumen penting, serta langkah membuat rencana darurat bersama keluarga.
Dalam panduan resminya, pemerintah Belanda juga menjelaskan alasan pentingnya periode 72 jam ini, yaitu pada saat terjadi krisis besar, bantuan dari layanan darurat dan pemerintah mungkin tidak dapat menjangkau semua orang secara langsung.
Karenanya, sambil menunggu bantuan tersebut dapat terdistribusi secara merata, masyarakat diharapkan tetap dapat hidup secara mandiri dalam periode tiga hari pertama.
Menurut Pejabat Menteri Hukum dan Keamanan Belanda, Foort van Oosten, dibagikannya buku panduan tersebut tidak dimaksudkan untuk menimbulkan rasa takut di masyarakat, melainkan demik mendorong kesiapsiagaan dan mengurangi kepanikan jika situasi darurat benar-benar terjadi.
"Dengan informasi ini, kami ingin memastikan semua warga Belanda dapat lebih siap menghadapi keadaan tak terduga,," tulis Oosten, dalam keterangan resminya.
Secara bertahap, proses distribusi buku panduan telah mulai dilakukan sejak November 2025 hingga awal Januari 2026 lalu.
Yang menarik, meski diperuntukkan bagi warga BElanda, namun buku panduan ini juga tersedia dalam beberapa bahasa, termasuk Inggris, Jerman, Prancis, Arab, dan lainnya, sehingga bisa diakses oleh warga asing yang tinggal di Belanda.
Selain menyiapkan panduan, pemerintah juga mengajak warga untuk berbicara dengan tetangga dan keluarga tentang peran masing-masing saat krisis, serta menyusun rencana tanggap keluarga sehingga semua anggota siap jika terjadi kondisi darurat.
(Tantra Deepa Rastafari)
- Siswa SMPN 2 Bulukumba Gelar Ramadhan Berbagi, Bangun Semangat Kepedulian di Bul...
- Profil Akhmad Wiyagus: Dari perwira tinggi Polri ke Wamendagri
- Daftar 25 pejabat & 10 Dubes yang dilantik Prabowo pada Oktober 2025
- Profil Agung Gumilar, Asisten presiden bidang Analis Data Strategis
- Profil Dirgayuza, Asisten presiden bidang Komunikasi Analis Kebijakan
- OJK Denda Tiga Pihak Transaksi Semu Saham IMPC Tahun 2016
- Grup Astra (AALI) Cetak Laba Rp1,5T Melonjak 28% di 2025
- Laba MMLP Anjlok 71,8% di 2025, Tinggal Rp70,7M!
- Emiten Milik Hapsoro (RAJA) Buka Data Free Float di Tengah Buyback
- Nilai Pasar Fantastis, PINTU Gas Listing Baru