JPMorgan Prediksi Arus Dana Kripto Kembali Naik di 2026, Investor Institusi Jadi Penopang

EmTrust - Salah satu lembaga keuangan terbesar di dunia, JPMorgan, memperkirakan bahwa arus dana ke pasar aset kripto bakal kembali melonjak pada pada 2026 ini. Proyeksi ini didasarkan pada kondis...

JPMorgan Prediksi Arus Dana Kripto Kembali Naik di 2026, Investor Institusi Jadi Penopang
Bacakan Artikel

EmTrust EmTrust - Salah satu lembaga keuangan terbesar di dunia, JPMorgan, memperkirakan bahwa arus dana ke pasar aset kripto bakal kembali melonjak pada pada 2026 ini.

Proyeksi ini didasarkan pada kondisi pasar kripta yang baru saja mencatatkan rekor aliran modal hampir USD130 miliar atau sekitar Rp2.080 triliun sepanjang 2025 lalu.

Kondisi tersebut diyakini bakal menjadi sentimen positif yang berpotensi kembali memantik minat investor institusional untuk terjun ke pasar kripto.

Hal ini diperkuat dengan keyakinan sejumlah pihak bahwa kepastian regulasi di Amerika Serikat (AS) mulai meningkat.

Sebagaimana dilaporkan oleh The Block pada Rabu (15/1/2026), tim analis JPMorgan yang dipimpin Managing Director Nikolaos Panigirtzoglou menilai lonjakan arus dana pada 2026 berpotensi lebih sehat dan berkelanjutan.

Hal tersebut lantaran pertumbuhan diperkirakan lebih banyak ditopang oleh partisipasi institusi, bukan semata dorongan investor ritel.

Menurut JPMorgan, pengesahan regulasi tambahan seperti Clarity Act di Amerika Serikat berpotensi menjadi katalis utama peningkatan adopsi institusional terhadap aset digital.
Kepastian hukum dinilai akan membuka ruang bagi berbagai aktivitas strategis, mulai dari pendanaan modal ventura kripto, merger dan akuisisi, hingga penawaran umum perdana (IPO).

Aktivitas tersebut mencakup berbagai lini industri, termasuk penerbit stablecoin, perusahaan pembayaran digital, exchange aset kripto, penyedia wallet, infrastruktur blockchain, hingga layanan kustodian aset digital.

Dalam perhitungannya, JPMorgan mengestimasi total arus modal ke pasar kripto dengan menggabungkan sejumlah indikator, seperti arus dana ETF kripto, sinyal transaksi dari kontrak berjangka CME, pendanaan modal ventura kripto, serta pembelian aset digital oleh perusahaan dengan strategi Digital Asset Treasury (DAT).

Sepanjang 2025, lonjakan arus dana kripto terutama didorong oleh masuknya dana ke ETF Bitcoin dan Ethereum. Namun, JPMorgan menilai arus tersebut cenderung dipimpin oleh investor ritel, bukan institusi besar.

Sebaliknya, aktivitas pembelian yang tercermin dari kontrak berjangka Bitcoin dan Ethereum di CME justru melambat signifikan dibandingkan 2024.

Kondisi ini mengindikasikan partisipasi yang lebih lemah dari investor institusional dan hedge fund sepanjang tahun lalu.

Lebih dari separuh total arus dana kripto pada 2025, sekitar USD68 miliar atau setara Rp1.088 triliun, berasal dari strategi DAT.

Strategy tercatat menyumbang sekitar USD23 miliar atau Rp368 triliun, relatif sejalan dengan pembelian Bitcoin senilai US$22 miliar pada 2024.

Sementara, perusahaan DAT lainnya secara kolektif membeli aset digital senilai US$45 miliar atau sekitar Rp720 triliun, melonjak tajam dari hanya USD8 miliar pada tahun sebelumnya.

Namun, JPMorgan mencatat sebagian besar pembelian DAT terjadi pada paruh awal 2025. Sejak Oktober, aktivitas pembelian aset kripto oleh DAT melambat signifikan, termasuk dari pemain besar seperti Strategy dan BitMine.

Pendanaan modal ventura kripto juga turut berkontribusi terhadap arus dana keseluruhan, meskipun nilainya masih jauh di bawah puncak siklus 2021–2022.

Sepanjang 2025, total pendanaan kripto meningkat tipis dibandingkan 2024, tetapi jumlah transaksi turun tajam dan semakin terkonsentrasi pada pendanaan tahap lanjut.

Pendanaan tahap awal tercatat melambat signifikan, meskipun lingkungan regulasi di Amerika Serikat dinilai lebih kondusif.

JPMorgan menilai sebagian dana yang sebelumnya dialokasikan untuk startup tahap awal justru beralih ke strategi DAT, yang menawarkan likuiditas lebih cepat dibandingkan eksposur ventura jangka panjang.

Beberapa firma modal ventura kripto besar bahkan disebut mulai memimpin pendanaan DAT secara selektif dengan menggunakan dana sisi likuid mereka.

Ke depan, JPMorgan memperkirakan arus dana kripto pada 2026 akan kembali meningkat dengan karakter yang berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.

Lonjakan tersebut diproyeksikan lebih banyak digerakkan oleh investor institusional, bukan investor ritel maupun DAT.

Analis JPMorgan juga mencatat bahwa proses pengurangan risiko di pasar kripto mulai mereda. Tanda-tanda stabilisasi terlihat pada arus ETF kripto dan indikator pasar lainnya.

Penurunan posisi kripto oleh investor ritel dan institusional pada kuartal terakhir 2025 dinilai telah berlalu, membuka ruang bagi fase pertumbuhan berikutnya yang lebih matang dan terstruktur.

(Tantra Deepa Rastafari)