Kecam Penangkapan Maduro, Iran Sebut Serangan AS ke Venezuela Rusak Tatanan Keamanan Global

EmTrust - Serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Ibu Kota Venezuela, Caracas, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro, pada Sabtu (3/1/2025) dini hari, terus menuai kecaman dari berb...

Kecam Penangkapan Maduro, Iran Sebut Serangan AS ke Venezuela Rusak Tatanan Keamanan Global
Bacakan Artikel

EmTrust EmTrust - Serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Ibu Kota Venezuela, Caracas, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro, pada Sabtu (3/1/2025) dini hari, terus menuai kecaman dari berbagai pihak.

Salah satu kecaman datang dari Pemerintah Iran, yang menyebut agresi militer tersebut sebagai sebuah sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Venezuela, serta bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Melalui Kantor Berita Press TV, Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan pihak AS bahwa invasi militer terhadap Venezuela yang notabene merupakan negara merdeka dan tercatat sebagai anggota PBB merupakan pelanggaran berat terhadap perdamaian dan keamanan regional dan global.

"Serangan ini membawa konsekuensi besar yang akan mempengaruhi seluruh sistem internasional," tulis pihak perwakilan Pemerintah Iran, dalam keterangan resminya.

Sebelumnya, kecaman serupa juga datang dari Pemerintah China yang mengutuk serangan militer AS, yang didasarkan pada tuduhan sepihak terhadap Maduro, yang dinilai telah melakukan pengerahan imigran ilegal dan keterlibatan pada jaringan narkotika internasional.

Pihak Beijing pun menegaskan bahwa agresi militer tersebut merupakan bentuk pelanggaran hukum internasional yang serius.

Seorang Juru Bicara Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa Pemerintahan China di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping sangat terkejut dan menentang keras adanya operasi militer tersebut.

"Tindakan hegemonis seperti itu merupakan pelanggaran hukum internasional yang serius dan melanggar kedaulatan Venezuela serta perdamaian dan keamanan di Amerika Latin dan kawasan Karibia," ujar juru bicara tersebut, sebagaimana dikutip Associated Press, Sabtu (3/1/2026).

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, juga telah mengakui aksi penangkapannya atas Maduro, seiring tuduhan keterlibatan pada kartel narkotika internasional dan juga isu imigran ilegal.

"AS berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang ditangkap bersama istrinya dan diterbangkan keluar dari negara itu," tulis Trump, dalam platform media sosial Truth Social, miliknya.

Penangkapan dilakukan Trump berdasarkan keputusan Kejaksaan Agung AS pada 2020 lalu, yang telah menjatuhkan dakwaan terhadap Maduro atas keterlibatan pada kartel narkotika internasional.

Dalam dakwaaannya, Kejaksaan Agung AS menuduh Pemerintahan maduro sebagai "Pemerintah korup, tidak sah, dan menggunakan wewenang pemerintah untuk melindungi dan mempromosikan kegiatan ilegal, termasuk perdagangan narkoba, selama berdekade-dekade."

Atas dakwaan tersebut, Maduro pun membantah dengan tegas, dan menuding balik bahwa pihak AS hanya ingin menguasai cadangan minyak Venezuela yang merupakan cadangan terbesar di dunia.

(Tantra Deepa Rastafari)