Tak Hanya Rojali dan Rohana, Fenomena Ghost Rich Juga Mulai Mengemuka di Indonesia
EmTrust - Tren pelemahan daya beli yang terjadi sejak beberapa waktu lalu sukses memviralkan dua istilah di tengah masyarakat, yaitu Rombongan Jarang Beli (Rojali) dan Rombongan Hanya Nanya (Rohana)....
EmTrust EmTrust - Tren pelemahan daya beli yang terjadi sejak beberapa waktu lalu sukses memviralkan dua istilah di tengah masyarakat, yaitu Rombongan Jarang Beli (Rojali) dan Rombongan Hanya Nanya (Rohana).
Dua istilah tersebut merujuk pada aktivitas sebagian masyarakat yang hanya memposisikan pusat-pusat perbelanjaan sebagai sarana healing dan jalan-jalan santai, namun jarang melakukan transaksi seiring dengan terbatasnya daya beli yang dimiliki.
Namun seolah luput dari sorotan, fenomena unik tidak hanya terjadi di level akar rumput, melainkan juga di kalangan masyarakat menengah ke atas, di mana tanpa banyak disadari juga telah munculnya keberadaan ghost rich. Apa itu?
Istilah ghost rich sendiri lebih banyak dikenal dan dipakai di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z, untuk menggambarkan orang-orang yang secara kasat mata tidak terlihat seperti pekerja formal pada umumnya, namun memiliki tingkat ekonomi yang cukup tinggi.
Seperti generasi muda pada umumnya, linimasa para ghost rich ini secara umum dipenenuhi dengan unggahan foto sedang bersantai di kafe pada jam kerja, liburan ke tempat-tempat high class, serta penggunaan gadget dan fesyen yang terlihat 'wah'.
Yang kemudian membedakan, para ghost rich ini seringkali nampak tidak memiliki pekerjaan tetap yang dapat diandalkan secara finansial. Mereka tidak memiliki slip gaji bulanan, bahkan kadang tidak terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, sehingga kerap juga luput dari kewajiban pajak yang ketat.
Lalu mereka dapat uang dari mana? Para ghost rich ini biasanya mengandalkan pemasukan keuangannya dari hasil monetisasi aktivitas digital, seperti dari youtube, tiktok, menjadi influencer di instagram, streamer di platform gaming hingga trader kripto dan saham.
Sebagian lagi juga menjadi pekerja lepas (freelancer) dari proyek satu ke proyek lainnya, pemasar afiliasi (affiliate marketing) sampai bisnis berjualan online, jasa titip (jastip hingga dropshipper.
Karenanya, istilah ghost rich kerap dilekatkan sebagai pengakuan bahwa mereka adalah para orang kaya (rich) generasi baru, namun kerap tidak terendus atau tercatat pada berbagai data statistik resmi pemerintah, seperti hantu (ghost) yang kehadirannya dirasakan namun tidak tampak nyata.
Pada data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, kelompok pekerja penuh waktu tercatat sebanyak 98,6 juta orang, pekerja paruh waktu sebanyak 36,29 juta orang, dan kelompok setengah menganggur mencapai 11,6 juta orang.
Dari data tersebut, dua kelompok terakhir mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, yaitu masing-masing sebanyak 1,66 juta hingga 0,04 juta.
Selain itu, pekerja informasi juga tercatat mendominasi, dengan proporsi sekitar 57,8 persen dari total 146,54 juta penduduk yang bekerja. Pada data-data inilah, keberadaan ghost rich menyelinap masuk tanpa bisa diketahui secara pasti terkait klasifikasi kelompoknya.
Di satu sisi, fenomena ini menunjukkan kabar baik terkait kreatifitas masyarakat, terutama generasi muda, yang dapat memaksimalkan pendapatan ekonomisnya dari ekonomi digital yang notabene memang tengah berkembang pesat dalam beberapa waktu terakhir.
Namun jangan lupa, bahwa tingkat risiko ghost rich ini juga relatif tinggi, dengan jenis pekerjaan yang tidak menentu dan cenderung fluktuatif, pada akhirnya juga tentu berdampak pada keberlanjutan (sistainable) kondisi ekonominya di masa mendatang.
Jadi, apakah Anda termasuk bagian dari para ghost rich yang saat ini tengah berlimpah cuan dari ekonomi digital? Dan apakah sudah Anda persiapkan untuk mitigasi risikonya di kemudian hari?
(Tantra Deepa Rastafary)
- Siswa SMPN 2 Bulukumba Gelar Ramadhan Berbagi, Bangun Semangat Kepedulian di Bul...
- Profil Akhmad Wiyagus: Dari perwira tinggi Polri ke Wamendagri
- Daftar 25 pejabat & 10 Dubes yang dilantik Prabowo pada Oktober 2025
- Profil Agung Gumilar, Asisten presiden bidang Analis Data Strategis
- Profil Dirgayuza, Asisten presiden bidang Komunikasi Analis Kebijakan