Negosiasi Tarif AS-Indonesia Diklaim Untungkan Lima Juta Pekerja Industri Manufaktur
EmTrust - Upaya negosiasi yang secara simultan terus diusahakan oleh Pemerintah Indonesia atas kebijakan tarif ekspor yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS) diklaim telah membuahkan hasil konkre...
EmTrust EmTrust - Upaya negosiasi yang secara simultan terus diusahakan oleh Pemerintah Indonesia atas kebijakan tarif ekspor yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS) diklaim telah membuahkan hasil konkret.
Salah satunya terhadap ekosistem industri manufaktur nasional, di mana di dalamnya terdapat sedikitnya lima juta tenaga kerja yang ikut menggantungkan penghidupannya pada geliat sektor industri padat karya tersebut.
Hal ini menyusul proses negosiasi yang dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Ambassador United States Trade Representative (USTR) Jamieson Greer, pada Selasa (23/12/2025) waktu setempat, yang disebut telah memasuki tahap akhir.
Pasca negosiasi, Airlangga menyebut bahwa salah satu poin krusial yang disepakati adalah pihak pemerintah AS setuju untuk mengecualikan sejumlah komoditas ekspor andalan Indonesia dari pengenaan tarif resiprokal yang per 22 Juli 2025 telah disepakati di level 19 persen, dari sebelumnya 32 persen.
"Tentu ini menjadi kabar yang baik terutama bagi industri Indonesia yang terdampak langsung kebijakan tarif. Terlebih, sektor-sektor yang terkena tarif tersebut utamanya padat karya, yang mempekerjakan lima juta pekerja. (Capaian negosiasi) Ini tentunya ini sangat strategis bagi Indonesia," ujar Airlangga, dalam konferensi pers, yang disiarkan secara langsung dari Washington, usai negosiasi.
Menurut Airlangga, sejumlah komoditas ekspor andalan Indonesia yang telah mendapatkan kesepakatan dari AS untuk dikecualikan dari pengenaan tarif resiprokal itu adalah kelapa sawit, kakao, kopi, hingga teh.
Sedangkan dari AS meminta supaya mendapatkan akses langsung untuk mendapatkan komoditas mineral kritis RI.
"AS sangat berharap untuk mendapatkan akses kritikal mineral, dan selanjutnya tidak ada kebijakan Indonesia yang dibatasi oleh perjanjian ini, tentunya perjanjian ini sifatnya komersial, strategis, dan menguntungkan kepentingan ekonomi kedua negara secara berimbang," ujar Airlangga.
nantinya, kesepakatan tarif dagang ini bakal ditandatangani langsung oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Prabowo Subianto pada akhir Januari 2025. Sedangkan dokumen perjanjian tarif resiprokalnya sendiri bakal rampung pada rentang waktu 12-19 Januari 2025 mendatang.
"Kita berharap bahwa proses teknis selanjutnya dapat selesai sesuai tanggat waktu, sehingga pada akhir Januari 2026 bisa dilakukan penandatanganan dokumen ART (Agreement on Reciprocal Tariff) oleh Bapak Presiden Prabowo dan Bapak Presiden Trump," ujar Airlangga.
(tantra deepa rastafari)
- IHSG Ditutup Ambles 1,37% ke 8.280, 10 Sektor Rontok!
- OCBC NISP Siapkan Buyback Saham Rp1M dari Kas
- Emiten Potensi Delisting Ini Ungkap Tak Milik Pengendali
- Bos MDKA Asal Inggris Makin Rajin Borong Saham di Pasar
- RMKE Tunda Penerbitan Obligasi Rp600M, Ada Apa?
- OJK Denda Tiga Pihak Transaksi Semu Saham IMPC Tahun 2016
- Grup Astra (AALI) Cetak Laba Rp1,5T Melonjak 28% di 2025
- Laba MMLP Anjlok 71,8% di 2025, Tinggal Rp70,7M!
- Emiten Milik Hapsoro (RAJA) Buka Data Free Float di Tengah Buyback
- Nilai Pasar Fantastis, PINTU Gas Listing Baru