Timur Tengah Membara, IPOT Rekomendasikan Buy on Breakout ENRG, ARCI, HMSP dan XIJI

StockHaven - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,44% atau 36,28 poin ke level 8235 dalam sepekan terakhir 23-27 Februari 2026. Perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi global kembali...

Timur Tengah Membara, IPOT Rekomendasikan Buy on Breakout ENRG, ARCI, HMSP dan XIJI
Bacakan Artikel

Beberapa laporan menyatakan bahwa kapal dagang, termasuk tanker besar, telah menerima peringatan dari IRGC bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz, sementara otoritas maritim AS memperingatkan kapal sipil untuk menjauhi kawasan Teluk karena risiko konflik yang tinggi. Penutupan atau gangguan terhadap Selat Hormuz berpotensi mengguncang pasar energi global, karena jalur ini biasanya memfasilitasi perdagangan minyak mentah dan gas yang mencapai puluhan juta barel per hari, serta berdampak terhadap kondisi harga minyak, rantai pasok energi, dan biaya asuransi pengiriman yang bisa melonjak tajam.

"Di tengah meningkatnya ketidakpastian global tersebut, kebijakan ekonomi Amerika Serikat juga mengalami perubahan signifikan pekan ini. Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor global yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Trump karena dianggap melampaui kewenangan hukum, memaksa administrasi AS untuk mencari dasar hukum baru guna mempertahankan beberapa kebijakan tarif tersebut," jelas Imam.

Trump kemudian mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15%, sebagai respons terhadap pembatalan tersebut. Sementara itu, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi untuk panel surya dari beberapa negara, termasuk Indonesia, dengan kisaran tarif antara 86% dan 143,3%, karena dianggap mendapatkan subsidi yang merugikan industri domestik AS.

"Ketentuan tarif tinggi ini dapat menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS dan menambah tekanan pada neraca perdagangan sektor terkait. Di dalam negeri, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings memperingatkan bahwa tekanan fiskal Indonesia terus meningkat, dengan rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara diperkirakan telah atau berpotensi bertahan di atas level 15%, ambang yang menjadi tolok ukur penting dalam penilaian kesehatan fiskal suatu negara, dan jika rasio ini tetap tinggi dalam jangka menengah, potensi penurunan peringkat kredit (downgrade) bisa terjadi meskipun saat ini outlook masih dipertahankan stabil. Peringatan ini menambah kehati-hatian investor dan pembuat kebijakan dalam menanggapi gejolak global sambil mengelola tantangan fiskal domestik," terang Imam.

Dengan meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya melibatkan Iran serta potensi gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20–25% distribusi minyak dunia, sektor energi dan komoditas menjadi yang paling sensitif untuk diperhatikan. Jika risiko gangguan pasokan berlanjut, harga minyak mentah berpotensi meningkat, yang menguntungkan emiten batu bara dan migas dari sisi harga jual rata-rata (ASP), namun di sisi lain dapat menekan sektor yang padat energi seperti aviasi, dan industri manufaktur berbasis impor bahan bakar. Kenaikan premi risiko juga biasanya mendorong penguatan harga emas, sehingga sektor tambang emas dan logam mulia berpotensi diuntungkan di tengah ketidakpastian global.

Selain itu, menyambut awal maret atau di pekan ini juga akan rilis beberapa data penting yang perlu diperhatikan yaitu: PMI Manufaktur Indonesia untuk Februari 2026, Neraca Perdagangan Indonesia untuk Januari 2026, Inflasi Indonesia untuk Februari 2026, PMI ISM Sektor Manufaktur Amerika Serikat untuk Februari 2026, PMI ISM Sektor Jasa AS untuk Februari 2026, PMI NBS China untuk Februari 2026, Initial Jobless Claims AS Feb/28, Cadangan Devisa Indonesia, Non-farm Payrolls AS dan Tingkat Pengangguran AS

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: