IHSG Anjlok Lebih 7%, Bos Astronacci Turun Gunung

Pasar modal Indonesia kembali diguncang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles lebih dari 7% dalam satu sesi, memicu kepanikan luas di kalangan investor ritel. Namun jauh sebelum tekanan hebat ini terjadi, Prof. Dr. Gema Goeyardi, Founder & CEO Astronacci International,

IHSG Anjlok Lebih 7%, Bos Astronacci Turun Gunung
Bacakan Artikel

EmTrust Emitenturst.com - Pasar modal Indonesia kembali diguncang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles lebih dari 7% dalam satu sesi, memicu kepanikan luas di kalangan investor ritel. Namun jauh sebelum tekanan hebat ini terjadi, Prof. Dr. Gema Goeyardi, Founder & CEO Astronacci International, telah lebih dulu mengingatkan potensi koreksi tajam di pasar saham nasional.

Sejak 31 Desember 2025, Gema memproyeksikan IHSG berpeluang mengalami koreksi signifikan setelah menyentuh area 9.150. Dalam risetnya, IHSG diperkirakan dapat turun hingga area 8.200. Pada perdagangan hari ini, proyeksi tersebut terbukti akurat, dengan IHSG menembus level support penting dan memicu aksi jual masif.

Defect System Picu Panic Selling Massal

Menurut Gema, tekanan tajam IHSG kali ini tidak semata dipicu sentimen sesaat, melainkan akibat fenomena Defect System, yakni kondisi pasar yang mendorong panic selling secara luas tanpa penyaringan fundamental yang memadai. Saham-saham bervaluasi tinggi menjadi korban utama, serupa dengan situasi pasar saat pengumuman Tariff War 2025, ketika sentimen negatif menyebar cepat dan menciptakan tekanan berlebihan di pasar.

Siklus Astrologi Kembali Muncul di Titik Kritis

Menariknya, Gema juga mengaitkan koreksi pasar saat ini dengan siklus astrologi Mars Conjunction Pluto yang terjadi pada 28 Januari 2026. Siklus serupa pernah muncul pada 24 Maret 2020, yang dikenal sebagai momen krusial berakhirnya market crash akibat pandemi COVID-19.

“Mars Conjunction Pluto sering kali menjadi sinyal tekanan puncak pasar. Dalam banyak kasus, fase ini justru menandai proses bottoming. Hari ini menunjukkan bagaimana harga dan waktu bertemu secara presisi,” ujar Gema.

Konfirmasi Major Cycle Wave 4

Gema menegaskan, penurunan IHSG hari ini menjadi konfirmasi dimulainya Major Cycle Wave 4. Berdasarkan analisis Time Trading Astronacci, target koreksi awal berada di area 8.200. Jika tekanan berlanjut, IHSG berpotensi menguji 7.956–7.670, bahkan hingga 6.085, yang disebut sebagai “utang pasar” dari gap historis yang belum tertutup.

Tak Perlu Panik, Rebound Jangka Pendek Berpeluang

Meski tekanan tergolong besar, Gema menilai investor ritel tidak perlu panik berlebihan. Dengan IHSG yang telah menyentuh area support kuat di sekitar 8.242, peluang rebound jangka pendek tetap terbuka untuk menutup gap harga yang terbentuk pada 28 Januari 2026.

“Di titik ini, harga dan waktu sudah bertemu. Rebound jangka pendek sangat mungkin terjadi, namun koreksi besar belum sepenuhnya selesai. Strategi jauh lebih penting dibandingkan spekulasi,” tegasnya.

Sektor Perbankan Jadi Opsi Defensif

Di tengah gejolak pasar, sektor perbankan dinilai relatif defensif dan oportunistik. Berbeda dengan saham konglomerasi yang telah overbought, saham perbankan masih tergolong underperform dan berpotensi menjadi penopang indeks.

Salah satu saham yang disorot adalah BBRI, yang dinilai masih memiliki peluang menguat menuju area Rp4.060, selama bertahan di atas support Rp3.440.

MarketMerahIngatAstronacci untuk Investor Ritel

Sebagai bentuk komitmen kepada investor ritel, Astronacci terus menggaungkan kampanye #MarketMerahIngatAstronacci. Tujuannya adalah membantu investor tetap rasional, memahami siklus pasar, dan mengambil keputusan berbasis strategi, bukan emosi.

“Saat investor ritel panik, time trader tidak ikut panik karena kami tahu di mana dan kapan harga berpotensi berhenti turun,” pungkas Gema