Bitcoin Meroket ke Level USD95.000, Ini Tiga Faktor Pemicunya
EmTrust - Setelah cukup lama tertekan oleh sejumlah sentimen yang tersedia di pasar, harga bitcoin (BTC) kembali menguat ke level USD95.000 per unit. Posisi tersebut sekaligus menjadi catatan leve...
EmTrust EmTrust - Setelah cukup lama tertekan oleh sejumlah sentimen yang tersedia di pasar, harga bitcoin (BTC) kembali menguat ke level USD95.000 per unit.
Posisi tersebut sekaligus menjadi catatan level tertinggi bagi aset kripto terbesar di dunia itu dalam dua bulan terakhir.
Sebagaimana dikutip dari data CoinMarketCap pada Rabu (14/1/2026), harga Bitcoin terpantau meroket lebih dari empat persen, dari semula di kisaran USD91.000 per unit ke level USD95.800 per unit.
Praktis, kondisi ini turut menjadi sentimen positif bagi aset kripto lainnya. Sebut saja Ethereum (ETH) yang juga terkerek naik hingga tujuh persen ke level USD3.300. Atau juga XRP (XRP), BNB (BNB), dan Solana (SOL) yang masing-masing terpantau menguat hingga sekitar lima persen.
Secara keseluruhan, total kapitalisasi pasar aset kripto naik lebih dari empat persen menjadi sekitar US$3,2 triliun.
Indeks Fear and Greed kripto yang mengukur sentimen pasar kini berada di skor 48 dari 100, menunjukkan sikap netral setelah sebelumnya berada di fase ketakutan selama berbulan-bulan.
Situasi pasar kripto yang kondusif tersebut, di antaranya, dipicu oleh kondisi makroekonomi global yang dinilai cukup kondusif, tekanan likuidasi di pasar derivatif, serta respons pasar yang semakin matang terhadap ketidakpastian regulasi di Amerika Serikat.
Dasar dari pemahaman ini adalah terkait rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk Desember 2025.
Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi tahunan bertahan di level 2,7 persen, sesuai ekspektasi pasar dan tidak berubah dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan inflasi bulanan tercatat moderat, baik untuk inflasi utama maupun inflasi inti. Kondisi ini membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS serta nilai dolar bergerak relatif stabil, sekaligus memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve tidak akan mengambil langkah pengetatan tambahan dalam waktu dekat.
Stabilnya inflasi memberi ruang bagi pelaku pasar untuk kembali meningkatkan eksposur ke aset berisiko, termasuk aset kripto, setelah periode konsolidasi yang cukup panjang di akhir 2025.
Selain itu, pasar mulai kembali berspekulasi bahwa penurunan suku bunga berpotensi terjadi pada paruh kedua 2026, seiring tanda-tanda perlambatan ekonomi.
Selain faktor makro, pergerakan harga Bitcoin kali ini juga dipercepat oleh tekanan teknikal di pasar derivatif.
Data CoinGlass mencatat sekitar US$587 juta posisi short aset kripto dilikuidasi dalam 24 jam terakhir, dengan sekitar US$292 juta berasal dari posisi short Bitcoin.
Gelombang likuidasi ini terjadi setelah Bitcoin berhasil menembus area resistance teknikal di kisaran USD94.500.
Penembusan tersebut memaksa trader yang sebelumnya mengambil posisi bearish untuk menutup posisi mereka, sehingga menciptakan tekanan beli tambahan dalam waktu singkat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa reli Bitcoin tidak sepenuhnya didorong oleh permintaan spot, tetapi juga oleh dinamika pasar derivatif yang sensitif terhadap level harga kunci dan pergerakan volatilitas jangka pendek.
Selain itu, faktor lain yang menopang kenaikan Bitcoin adalah sikap pasar yang relatif tenang terhadap perkembangan regulasi di Amerika Serikat.
Komite Senat AS, termasuk Komite Pertanian dan Perbankan, memutuskan menunda pembahasan lanjutan CLARITY Act hingga akhir Januari. RUU tersebut sebelumnya diharapkan memberikan kejelasan struktur pasar aset kripto di AS.
Penundaan ini disebabkan oleh belum tercapainya kesepakatan terkait insentif stablecoin, pengawasan sektor DeFi, serta pembagian kewenangan antar lembaga.
Namun berbeda dengan respons pasar pada isu regulasi sebelumnya, kali ini penundaan tersebut tidak memicu tekanan jual signifikan.
Sejumlah analis menilai CLARITY Act kini lebih dipandang sebagai proses integrasi jangka panjang ketimbang risiko biner yang dapat langsung mengguncang harga.
Respons pasar ini mengindikasikan bahwa Bitcoin semakin diposisikan sebagai aset dengan karakter institutional-grade, di mana dinamika regulasi tidak lagi menjadi pemicu kepanikan jangka pendek.
(Tantra Deepa Rastafari)
- Siswa SMPN 2 Bulukumba Gelar Ramadhan Berbagi, Bangun Semangat Kepedulian di Bul...
- Profil Akhmad Wiyagus: Dari perwira tinggi Polri ke Wamendagri
- Daftar 25 pejabat & 10 Dubes yang dilantik Prabowo pada Oktober 2025
- Profil Agung Gumilar, Asisten presiden bidang Analis Data Strategis
- Profil Dirgayuza, Asisten presiden bidang Komunikasi Analis Kebijakan
- OJK Denda Tiga Pihak Transaksi Semu Saham IMPC Tahun 2016
- Grup Astra (AALI) Cetak Laba Rp1,5T Melonjak 28% di 2025
- Laba MMLP Anjlok 71,8% di 2025, Tinggal Rp70,7M!
- Emiten Milik Hapsoro (RAJA) Buka Data Free Float di Tengah Buyback
- Nilai Pasar Fantastis, PINTU Gas Listing Baru