Astra Catat Laba Bersih Rp24,5 Triliun di 9M2025, Tetap Resilien di Tengah Tekanan Harga Batu Bara

StockHaven - PT Astra International Tbk (“Astra” atau “Perseroan”) mencatat kinerja solid sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025, dengan laba bersih sebesar Rp24,5 triliun, turun 5% dibandingkan...

Astra Catat Laba Bersih Rp24,5 Triliun di 9M2025, Tetap Resilien di Tengah Tekanan Harga Batu Bara
Bacakan Artikel

JALURDUA StockHaven - PT Astra International Tbk (“Astra” atau “Perseroan”) mencatat kinerja solid sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025, dengan laba bersih sebesar Rp24,5 triliun, turun 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp25,9 triliun. Jika tidak memperhitungkan penyesuaian nilai wajar atas investasi di GoTo dan Hermina, laba bersih Astra mencapai Rp24,7 triliun, atau turun 6% year-on-year (yoy).

Penurunan laba terutama disebabkan oleh harga batu bara yang lebih rendah, sementara kontribusi dari lini bisnis lain seperti pertambangan emas, jasa keuangan, agribisnis, dan infrastruktur mencatat peningkatan. Di sisi lain, kinerja otomotif relatif stabil meskipun pasar mobil nasional melemah akibat penurunan daya beli pada segmen entry-level.

Pendapatan bersih konsolidasian Grup mencapai Rp243,6 triliun, turun tipis 1% yoy. Nilai aset bersih per saham meningkat 6% menjadi Rp5.609, sementara posisi kas bersih (tidak termasuk anak usaha jasa keuangan) naik signifikan menjadi Rp13,4 triliun dari Rp8,0 triliun pada akhir 2024.

Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, menyatakan bahwa meski tertekan harga komoditas, Astra tetap menunjukkan ketahanan operasional yang kuat. “Kontribusi solid dari bisnis-bisnis nonbatu bara mendukung resiliensi kinerja Grup. Kami tetap fokus menjaga disiplin keuangan dan keunggulan operasional untuk menangkap peluang pertumbuhan dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham,” ujarnya.

Dari sisi segmen usaha, divisi Jasa Keuangan mencatat pertumbuhan laba 8% menjadi Rp6,7 triliun, sementara Agribisnis naik 34% menjadi Rp853 miliar dan Infrastruktur meningkat 28% menjadi Rp935 miliar. Sebaliknya, divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi yang dikelola melalui PT United Tractors Tbk mengalami penurunan laba 26% menjadi Rp7 triliun akibat harga batu bara yang menurun.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2