Antisipasi Aliran Grey Money, Bank Sentral Thailand Perketat Pengawasan Perdagangan USDT
EmTrust - Bank Sentral Thailand (Bank of Thailand/BoT) meningkatkan standar pengawasan terhadap aktivitas perdagangan stablecoin Tether (USDT) yang dilakukan di wilayah negaranya. Upaya pengetatat...
EmTrust EmTrust - Bank Sentral Thailand (Bank of Thailand/BoT) meningkatkan standar pengawasan terhadap aktivitas perdagangan stablecoin Tether (USDT) yang dilakukan di wilayah negaranya.
Upaya pengetatat tersebut sengaja diamnbil usai ditemukannya indikasi aliran dana abu-abu (grey money) di pasar aset digital domestik, di mana sebagian besar penjual USDT di platform kripto Thailand rupanya terafiliasi dengan pihak asing.
Sebagaimana dilansir The Nation, Selasa (13/1/2026), Gubernur BoT, Vitai Ratanakorn, menyatakan bahwa sekitar 40 persen penjual USDT yang beroperasi di platform Thailand merupakan warga negara asing yang seharusnya tidak melakukan aktivitas perdagangan di dalam negeri.
Temuan tersebut mendorong otoritas moneter memasukkan transaksi stablecoin ke dalam kerangka pengawasan yang sama dengan pergerakan uang tunai, perdagangan emas, serta arus dana melalui wallet elektronik.
Meski nilai pasar kripto domestik relatif kecil, Bank Sentral Thailand menilai potensi risikonya tidak bisa diabaikan.
Rata-rata volume perdagangan kripto harian di Thailand tercatat sekitar 2,8 miliar baht, jauh lebih rendah dibandingkan pasar valuta asing yang mencapai 10 hingga 15 miliar baht per hari.
Namun, otoritas menegaskan bahwa perbedaan skala tersebut tidak menghilangkan potensi penggunaan aset kripto sebagai saluran peredaran grey money.
"Kami tidak akan lagi membatasi diri hanya pada tahap analisis. Bank sentral akan mengambil peran lebih aktif dalam menyelesaikan persoalan struktural. Jika dibiarkan, masalah ini berisiko berdampak pada stabilitas makroekonomi dalam jangka panjang," ujar Ratanakorn.
Ratanakorn juga menjelaskan bahwa langkah penguatan pengawasan ini juga sejalan dengan arahan Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, yang pada 9 Januari 2026 memerintahkan pengetatan kontrol di sektor perdagangan emas dan aset digital.
Kebijakan tersebut mencakup kewajiban pelaporan transaksi bernilai besar, penegakan aturan identifikasi wallet, serta koordinasi lintas lembaga antara Bank Sentral Thailand, otoritas perpajakan Thailand, dan institusi keuangan terkait lainnya.
Langkah BoT dilakukan di tengah ekspansi signifikan sektor stablecoin secara global. Berdasarkan data The Block, total suplai stablecoin saat ini telah melampaui USD292 miliar atau setara sekitar Rp4.700 triliun.
USDT masih mendominasi pasar dengan porsi lebih dari USD187 miliar atau sekitar 64 persen dari total suplai, sementara USDC yang diterbitkan Circle berada di kisaran USD75 miliar.
Seiring pertumbuhan tersebut, penggunaan stablecoin dalam aktivitas ilegal juga menjadi sorotan regulator global.
Data Chainalysis menunjukkan bahwa sepanjang 2025, stablecoin menyumbang sekitar 84 persen dari total volume transaksi kripto ilegal, dengan estimasi nilai mencapai US$154 miliar atau sekitar Rp2.460 triliun.
Tether, sebagai penerbit USDT, menyatakan telah mengambil langkah penegakan hukum untuk menekan penyalahgunaan asetnya. Sejak Desember 2023, perusahaan menerapkan kebijakan pembekuan wallet secara proaktif yang diselaraskan dengan daftar sanksi Office of Foreign Assets Control (OFAC) milik Departemen Keuangan Amerika Serikat.
Hingga saat ini, Tether mengklaim telah membekukan lebih dari USD3 miliar USDT guna membantu aparat penegak hukum di berbagai negara, bekerja sama dengan lebih dari 310 lembaga di 62 yurisdiksi.
Pada 11 Januari 2026 lalu, Tether juga membekukan USD182 juta USDT yang terkait dengan lima alamat jaringan Tron.
Meski demikian, penggunaan USDT secara global masih menuai kontroversi. Laporan Wall Street Journal pada 10 Januari 2026 menyoroti peran sentral USDT dalam perekonomian Venezuela, di mana stablecoin tersebut disebut digunakan oleh perusahaan minyak milik negara untuk menghindari sanksi Amerika Serikat.
Dalam laporan tersebut, diperkirakan hampir 80 persen pendapatan minyak Venezuela dikumpulkan melalui stablecoin seperti USDT.
(Tantra Deepa Rastafari)
- Siswa SMPN 2 Bulukumba Gelar Ramadhan Berbagi, Bangun Semangat Kepedulian di Bul...
- Profil Akhmad Wiyagus: Dari perwira tinggi Polri ke Wamendagri
- Daftar 25 pejabat & 10 Dubes yang dilantik Prabowo pada Oktober 2025
- Profil Agung Gumilar, Asisten presiden bidang Analis Data Strategis
- Profil Dirgayuza, Asisten presiden bidang Komunikasi Analis Kebijakan