IHSG Masih Tertekan di Sesi I, Anjlok 5,91% Usai Trading Halt

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah tajam pada perdagangan sesi pertama Kamis (29/1/2026). IHSG tercatat turun 492 poin atau 5,91% ke level 7.828,47, setelah sebelumnya sempat mengalami penghentian perdagangan sementara (trading halt)

IHSG Masih Tertekan di Sesi I, Anjlok 5,91% Usai Trading Halt
Bacakan Artikel

EmTrust Emitentrust.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah tajam pada perdagangan sesi pertama Kamis (29/1/2026). IHSG tercatat turun 492 poin atau 5,91% ke level 7.828,47, setelah sebelumnya sempat mengalami penghentian perdagangan sementara (trading halt) akibat penurunan indeks yang menyentuh 8% di awal sesi.

Tekanan jual masih mendominasi pergerakan pasar, tercermin dari melemahnya seluruh indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sektor energi menjadi pemberat utama dengan koreksi terdalam sebesar 8,04%, disusul sektor barang baku yang turun 7,81% serta sektor properti dan real estate yang melemah 7,52%.

Pelemahan juga terjadi pada sektor barang konsumer non-primer yang terkoreksi 7,38% dan sektor teknologi yang turun 6,86%. Tekanan merata ini menunjukkan sentimen negatif masih kuat membayangi pasar saham domestik.

Aktivitas perdagangan hingga sesi pertama terpantau tinggi. Total volume transaksi mencapai 42,9 miliar saham dengan nilai perdagangan sebesar Rp32,7 triliun. Sebanyak 720 saham melemah, 65 saham menguat, dan 22 saham stagnan, menegaskan dominasi tekanan jual di pasar.

Di tengah pelemahan IHSG, sejumlah saham masih mampu mencatatkan penguatan harga. Saham PT Citatah Tbk (CTBN) naik Rp1.150 menjadi Rp5.925 per saham, PT Asuransi Suretybond Indonesia Tbk (SURE) menguat Rp500 ke Rp3.100 per saham, serta PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) naik Rp475 menjadi Rp23.975 per saham.

Sementara itu, tekanan jual menyeret sejumlah saham berkapitalisasi besar. DCI Indonesia Tbk (DCII) anjlok Rp24.900 ke level Rp180.100 per saham, Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun Rp12.750 menjadi Rp85.850 per saham, dan Multipolar Technology Tbk (MLPT) melemah Rp4.450 ke Rp51.550 per saham.

Dari sisi aktivitas perdagangan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham teraktif dengan frekuensi 171.448 kali transaksi senilai Rp5,8 triliun. Selanjutnya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diperdagangkan sebanyak 107.410 kali dengan nilai Rp1,8 triliun, serta PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan 100.284 kali transaksi senilai Rp1,5 triliun.

Pada kelompok saham unggulan LQ45, tekanan terdalam dialami PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang anjlok 14,97% ke Rp250 per saham, disusul XL Smart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) yang turun 14,92% ke Rp3.250 per saham, serta PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang melemah 13,83% ke Rp1.495 per saham.

Sementara itu, satu-satunya saham LQ45 yang mampu bertahan di zona hijau adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang menguat tipis 0,28% ke level Rp3.600 per saham.