BEI Telisik MEJA! Aset Cuma Rp107M, Mau Akuisisi Rp1,6T

Rencana akuisisi jumbo senilai Rp1,6 triliun oleh PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) memantik perhatian serius Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasalnya, nilai transaksi tersebut setara hampir 15 kali lipat

BEI Telisik MEJA! Aset Cuma Rp107M, Mau Akuisisi Rp1,6T
Bacakan Artikel

EmTrust Emitentrust.com- Rencana akuisisi jumbo senilai Rp1,6 triliun oleh PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) memantik perhatian serius Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasalnya, nilai transaksi tersebut setara hampir 15 kali lipat dari total aset perseroan per 30 Juni 2025 yang hanya Rp107,08 miliar.

Dalam surat tanggapan resmi ke BEI tertanggal 11 Februari 2026, manajemen MEJA memberikan klarifikasi atas rencana akuisisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP), perusahaan tambang batubara di Sumatera Selatan dengan konsesi ±11.640 hektare dan estimasi sumber daya 693,7 juta ton.

MEJA mengakui hingga surat disampaikan, pihaknya masih menunggu detail ikhtisar laporan keuangan TCP. Meski demikian, nilai akuisisi Rp1,6 triliun sudah lebih dulu disepakati dalam perjanjian awal 22 Desember 2025.

Manajemen menyebut angka tersebut masih bisa berubah tergantung hasil appraisal Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang saat ini masih dalam proses penunjukan.

Artinya, valuasi final belum ada tetapi angka triliunan sudah diumumkan ke publik.

Dengan nilai transaksi yang jauh melampaui aset perseroan, BEI menanyakan apakah ini secara substansi merupakan reverse acquisition atau backdoor listing.

Manajemen MEJA menegaskan bukan, dengan alasan tidak ada perubahan pemegang saham pengendali. Namun perseroan juga membuka kemungkinan bahwa jika secara hukum dianggap reverse acquisition, maka transaksi akan mengikuti ketentuan POJK 9/2018 termasuk tender wajib.

Jawaban ini dinilai sebagian pelaku pasar sebagai “normatif tapi belum tegas”.

TCP disebut belum berproduksi sebelum 2026. Artinya belum ada data historis produksi sebagai pembanding proyeksi.

Valuasi Rp1,6 triliun disampaikan menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF). Namun manajemen mengakui proyeksi keuangan dalam DCF tersebut belum direview oleh akuntan publik dan murni berdasarkan proyeksi pemegang saham pengendali.

Harga batubara yang digunakan dalam asumsi sebesar USD 26/ton FOB, lebih rendah dari estimasi harga jual USD 28–32/ton, dengan alasan konservatif.

Terminal value menggunakan diskonto 3% yang disebut berasal dari estimasi inflasi Indonesia.

Konsultan JORC dari Afrika Selatan, CPI Belum Dicek

Estimasi 693,7 juta ton sumber daya tambang disusun oleh Faan Grobelaar & Associates yang berdomisili di Kimberly, Afrika Selatan.

Namun saat ditanya apakah konsultan tersebut terdaftar sebagai Competent Person Indonesia (CPI) di KCMI, manajemen mengaku belum melakukan pengecekan.

Perseroan menyatakan bila tidak terdaftar, maka akan diperlukan laporan cadangan yang ditandatangani CPI terdaftar untuk keperluan right issue.

Right Issue Tanpa Angka, Dilusi Belum Bisa Diprediksi

Akuisisi akan dilakukan bertahap melalui skema share swap dan right issue. Namun hingga kini:

Nilai right issue belum ditentukan

Rasio dilusi belum dapat dihitung

Standby buyer belum dipastikan

Alasannya kembali pada hasil valuasi KJPP dan harga rata-rata saham perseroan.

Saat ini TCP hanya memiliki satu standby buyer, yakni Argo Energy Pte Ltd yang disebut bagian dari Banpu Group. Kontrak disebut berdurasi satu tahun dan manajemen menyatakan tidak ada hubungan afiliasi.

Terkait pengambilalihan sebelumnya oleh PT Triple Berkah pada Desember 2025, perseroan menyatakan saat ini masih menyampaikan tanggapan ketiga ke OJK terkait rencana tender wajib.