BEI Sorot ANJT, Utang BRI Rp4,8T & 3 Anak Usaha Ditutup
PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) menanggapi sederet pertanyaan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait transaksi material berupa fasilitas pinjaman jumbo senilai Rp4,85 triliun
EmTrust Emitentrust.com - PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) menanggapi sederet pertanyaan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait transaksi material berupa fasilitas pinjaman jumbo senilai Rp4,85 triliun dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk serta keputusan menghentikan operasional tiga anak usaha.
ANJT menegaskan langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari penataan ulang struktur keuangan dan strategi jangka panjang perseroan.
Hilman Lukito, Direktur dan Corporate Secretary ANJT menjelaskan fasilitas term loan dari BRI diberikan kepada empat entitas terkendali, yakni PT Sahabat Mewah dan Makmur, PT Kayung Agro Lestari, PT Austindo Nusantara Jaya Agri, dan PT Austindo Nusantara Jaya Agri Siais. Nilai transaksi ini setara 70,76% dari ekuitas perseroan, sehingga masuk kategori transaksi material.
Hilman menyebut pinjaman tersebut digunakan untuk refinancing utang jangka pendek serta mendukung pengembangan usaha ke depan. Sejumlah aset milik anak usaha mulai dari tanaman, tanah, bangunan, hingga pabrik kelapa sawit dijaminkan atas fasilitas tersebut.
Meski rasio utang seperti Debt to Equity Ratio dan Debt to Asset Ratio meningkat, perseroan menilai posisinya masih dalam batas wajar dan tidak menimbulkan dampak material terhadap kinerja keuangan.
Selain isu utang, BEI juga menyoroti keputusan ANJT menghentikan operasional PT Austindo Nusantara Jaya Bogor, PT ANJ Agri Papua, dan PT Gading Mas Indonesia Teguh per 31 Desember 2025.
Hilman menjelaskan ketiga entitas tersebut tidak lagi sejalan dengan strategi bisnis jangka menengah dan panjang, serta secara konsisten mencatatkan kerugian.
Kontribusi pendapatan ketiganya bahkan di bawah 3% terhadap pendapatan konsolidasian dalam tiga tahun terakhir.
“Langkah ini diharapkan meningkatkan efisiensi dan profitabilitas Perseroan,” jawab Hilman ke BEI Jumat (23/1).
Ditambahkan penghentian operasional PT ANJ Agri Papua disebut tidak berdampak pada aktivitas perkebunan di Sorong Selatan, termasuk tanaman menghasilkan senilai US$115,2 juta yang menjadi porsi terbesar aset biologis perseroan.
ANJT menegaskan operasional kelapa sawit dan pengolahan sagu di wilayah tersebut tetap berjalan normal melalui entitas anak lainnya.
BEI juga menyoroti lonjakan piutang usaha pihak berelasi yang melonjak signifikan menjadi US$24,95 juta. ANJT menjelaskan kenaikan ini terjadi akibat perubahan skema pembayaran dari tunai menjadi tempo.
Sementara itu, arus kas operasi turun drastis akibat perubahan ketentuan pembayaran dan pembayaran pesangon karyawan imbas perubahan kepemilikan. Meski demikian, perseroan memastikan kondisi likuiditas tetap terjaga.
Di tengah berbagai penyesuaian, kinerja keuangan ANJT justru menunjukkan perbaikan signifikan. Hingga September 2025, laba bersih melonjak menjadi US$23,89 juta, dari hanya US$1,04 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya, ditopang kenaikan harga jual kelapa sawit dan efisiensi biaya.
- Profil Akhmad Wiyagus: Dari perwira tinggi Polri ke Wamendagri
- Daftar 25 pejabat & 10 Dubes yang dilantik Prabowo pada Oktober 2025
- Profil Agung Gumilar, Asisten presiden bidang Analis Data Strategis
- Profil Dirgayuza, Asisten presiden bidang Komunikasi Analis Kebijakan
- Ini Profil Astrid Widayani, Wakil Wali Kota Solo-Ketua DPD PSI Solo
- OJK Denda Tiga Pihak Transaksi Semu Saham IMPC Tahun 2016
- Grup Astra (AALI) Cetak Laba Rp1,5T Melonjak 28% di 2025
- Laba MMLP Anjlok 71,8% di 2025, Tinggal Rp70,7M!
- Emiten Milik Hapsoro (RAJA) Buka Data Free Float di Tengah Buyback
- Nilai Pasar Fantastis, PINTU Gas Listing Baru